Sunday, August 12, 2007

Diluncurkan, Buku Pecinan Semarang

Selain Riwajat Semarang: Dari Djamannja Sam Poo Sampe Terhapoesnya Kongkoan karya Liem Thian Joe, sepertinya belum ada buku dengan bobot setara yang mengupas tentang Pecinan Semarang. Tak ayal, buku terbitan Boekhandel Ho Kim Yo Semarang-Batavia pada 1933 itu masih menjadi rujukan utama bagi mereka yang melakukan studi tentang masyarakat Tionghoa Semarang. Kondisi itulah yang menyemangati Ahmad Fauzan Hidayatullah, TH Lanny Nathalie Ting, dan SN Wargatjie menyusun buku Pecinan Semarang: Dari Boen Hian Tong sampai Kopi Semawis.

Buku setebal 72 halaman yang diterbitkan Perkumpulan Sosial Rasa Dharma itu diharapkan dapat mengisi ruang-ruang kosong dalam sejarah San pao lung dang ren jie. Baru-baru ini, buku yang diformat serupa majalah itu diluncurkan di panggung utama Waroeng Semawis, Jalan Gang Waroeng, Semarang.

Puluhan tamu undangan menghadiri acara itu, termasuk sejumlah tokoh Pecinan, antara lain Ketua PITI Semarang H Maksoem Pienarto, Ketua Perkumpulan Rasa Dharma Ridwan Reksabuana, dan pemerhati sejarah Semarang Jongkie Tio.

Pecinan Semarang: Dari Boen Hian Tong sampai Kopi Semawis berisi 16 tulisan mengenai pernak-pernik Pecinan. Berbeda dengan karya Liem Thian Joe yang memapar peristiwa secara kronologi bedasar arsip-arsip Kongkoan (Majelis China), Fauzan dan kawan-kawan lebih banyak memunculkan profil perkumpulan yang hidup di kawasan Pecinan Semarang.

Dimulai dari Boen Hian Tong (sekarang Rasa Dharma), Yayasan Tjie Lam Tjay, Hoo Hap, TPA Khong Kauw Hwee, THHK, Hwa Ing Chinese English School, Sekolah Nasional Karangturi, RS Telogorejo, Yayasan Olahraga Sahabat, profil Romo Simon Beekman SJ, Gereja Kristen Indonesia Stadion, PITI Semarang, Kopi Semawis, Sekilas Dinamika Pecinan Semarang, serta tulisan tentang peringatan tahun baru Imlek di Indonesia.

Sebagai referensi alternatif, buku tersebut dinilai kurang berhasil menampilkan sisi lain Pecinan Semarang. Pasalnya, tulisan-tulisan yang ada di dalamnya tak lebih sebagai bunga rampai buku-buku peringatan milik perkumpulan. Memang ada ikhtiar membuatnya lebih lengkap dengan data oral history, namun hasilnya belum tampak optimal.

* Digunting dari Harian Suara Merdeka Jawa Tengah (Rukardi) Edisi 13 Agustus 2007



2 comments:

  1. Saya mungkin ketinggalan jaman, kalau ingin mendapatkan buku ini bagaimana caranya? maksudnya belinya di mana, saya tinggal di Yogyakarta.

    ReplyDelete
  2. Saya puna pertanyaan sama dengan pak Tulus. Kalau mau beli dimana ya? Kayaknya menarik bukunya. Tolong bila anda info bisa diemail ke saya.
    JW

    ReplyDelete